Kebangkitan Nasional : Hanya seremonial belaka?

Hingar-bingar peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional telah berlalu. Ditutup dengan perayaan di Stadion Senayan Jakarta. Meriah memang. Seolah lupa kalau sebentar lagi BBM akan naik. Baiklah, tulisan ini bukan merupakan ringkasan acara di stadion senayan tadi malam.

Setelah acara tersebut lalu apa?

Inilah yang selalu menjadi pertanyaan saya setiap saat setelah sebuah sermonial berskala nasional dilakukan. Entah itu 17 Agustus, Sumpah Pemuda, Hardiknas dan yang lainnya. Pertanyaan ini yang belum terjawab sampai sekarang, sebab sepertinya setiap seremonial hanya seremonial, tidak ada wujud tindak lanjut dari apa makna sebenarnya dibalik seremonial tersebut.

Kita lihat.

Dari mana?

Kita bercermin dari ungkapan Dedi Mizwar di televisi. “Bangkit itu marah. Marah bila martabat bangsa diinjak-injak”. Selama ini, bukankah negara kita ekonominya selalu terinjak-injak? Dan yang paling parah, kita tidak marah!

Bagaimana tidak, di tengah harga minyak dunia yang semakin melangit, secara logika, kita semestinya senang, karena kita kaya minyak dan negara bisa mengeruk keuntungan dari kenaikan tersebut. Namun apa yang terjadi? Karena produksi Pertamina (berdasarkan data di TVOne) adalah 30% dari total produksi minyak yang ada di Indonesia. Sisanya? Asing yang menguasai!!!. Gila !!! Bagaimana ini bisa terjadi? mengapa dengan Kebangkitan Nasional yang sudah 100 tahun ini kita tidak melakukan re-negosiasi ulang dengan para perusahaan asing untuk meningkatkan “bagi hasil” yang lebih menguntungkan negara ini?? Amin Rais bahkan mengusulkan untuk me-nasionalisasi aset-aset negara. Beliau menegaskan, kalau sebuah perjanjian itu tidak menguntungkan seorang pihak, maka bisa ditinjau kembali.

Kita ini punya negara, tapi seperti kontrak di negara lain saja!!! Kita memiliki banyak kekayaan, tapi lebih banyak menguntungkan negara lain!!!

Lalu, ke mana kebangkitan nasional?

Kita lihat lagi PT Freeport. Setelah sekian tahun “berkuasa” di Papua, dan bahkan seolah menjadi “negara di dalam negara”. Apa yang sudah diberikan Freeport kepada masyarakat sekitar? Berapa persen dari Freeport yang diberikan kepada negara ini? (kenapa terkesan mengemis di negeri sendiri?!!!). Sudah jelas sangat sedikit. Mengapa kita tidak melakukan peninjauan kembali terhadap perjanjian yang telah dibuat?

Lalu, ke mana kebangkitan nasional?

Kita kaya akan hasil hutan. Namun banyak hasil hutan yang “lari” diselundupkan ke Malaysia. Bahkan kita kehilangan hutan seluas 300xluas lapangan sepak bola dalam waktu tidak sampai 1 hari!! Mengapa sampai sekarang masih terjadi? Apa tindak lanjutnya? Mengapa banyak para calon pemimpin di daerah, pada masa kampanye, tidak ada yang mengangkat masalah ini (dan masalah lingkungan pada umumnya)? Lebih banyak yang mengangkat masalah “pendidikan gratis”, “kesehatan gratis”, dan yang lain-lain, yang saya pikir itu “bulls**t”. Omong kosong.

Lalu, ke mana kebangkitan nasional?

Hasil laut Indonesia berlimpah, dengan 2/3 luas negara ini yang berupa lautan semestinya kita tidak takut akan kekurangan pangan. Namun apa yang terjadi? lagi-lagi negara lainlah yang menikmati. Kapal-kapal Thailand, Vietnam, datang ke negara ini untuk mengambilnya secara illegal. Mengapa armada laut kita tidak diperkuat?

Lalu, ke mana kebangkitan nasional?

Ada banyak cerita tentang guru honorer yang sampai beberapa bulan belum terbayar gajinya, namun tetap bersemangat untuk mengajar. Pengabdian yang luar biasa!!! Namun gaji guru tetaplah gaji guru. Kecil. Bahkan tenaga pengajar di negeri ini (entah itu guru atau dosen) terbilang kecil!!! Orang di negeri ini akan melihat sinis, ketika seseorang ingin menjadi guru (atau dosen) karena gajinya kecil dan kesejahteraannya kurang terjamin. Padahal, di pundak merekalah pendidikan diserahkan. Mengapa dunia pendidikan kita seperti ini? Pendidiknya pun bahkan tidak dihargai !!! Mengapa bisa terjadi?

Lalu, ke mana kebangkitan nasional?

Sepertinya hanya sekedar seremonial. Seremonial yang hanya berlaku satu hari, semangat yang berlaku hanya satu hari, yang kemudian meredup….. meredup…. dan lama-lama hilang. Semoga para pemimpin kita di masa depan kelak bisa bangkit melawan keterpurukan, dan kebangkitan nasional bukan merupakan simbol belaka.

“…..Indonesia sejak dulu kala…. s’lalu dipuja-puja bangsa…….” (sepotong lagu Indonesia Pusaka)

dipuja atau diinjak ? Bangkit atau malah Bangkrut ?

No comments yet

Leave a reply